June 22, 2012

Kebiasaan Pemicu Diabetes

Siapa yang tidak kenal dengan penyakit diabetes? Mungkin keluarga, saudara, tetangga ataupun rekan kerja Anda mungkin salah satu "korban" ganasnya penyakit ini. Saking ganasnya penyakit ini dianugrahi sebagai salah satu penyakit mematikan di dunia. Apa saja kebiasaan pemicu diabetes tersebut??

Ada aksi pasti ada reaksi, itu merupakan suatu hubungan sebab akibat yang mungkin suatu hubungan yang tidak dapat dielakkan lagi. Tak jauh berbeda dengan kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari, apa yang kita lakukan sudah barang tentu akan ada dampaknya, apakah itu positif atau negatif.

Dan jika Anda merupakan orang yang tidak ingin "berteman" dengan penyakit ini, ada baiknya Anda baca kebiasaan-kebiasaan di bawah ini yang menjadi penyebab diabetes.

Berikut adalah beberapa hal kebiasaan hidup sehari-hari yang bisa menjadi penyebab diabetes :

1. Teh manis.
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes.

Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan.
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia.

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan.

Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil.
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai.

Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.

Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik.

Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan.
“Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya.

Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres.
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok.
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga.

Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi.
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik.

Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam.
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah.

Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda.
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.

Kebiasaan diatas mungkin suatu kebiasaan umum penyebab diabetes, namun ada juga kebiasaan yang menyebabkan Anda terkena diabetes, namun tidak sebanyak yang Anda ketahui dengan yang di atas.

1. Melewatkan sarapan.
Sekelompok ilmuwan Australia menemukan bahwa melewatkan sarapan pagi dapat mengarah ke penurunan kadar gula darah yang signifikan. Akibatnya, orang akan cenderung mempunyai keinginan untuk mengonsumsi makanan manis sehingga meningkatkan risiko diabetes.

2. Penumpukan lemak perut atau lingkar pinggang terlalu besar.
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pinggang terlalu besar berhubungan erat dengan risiko lebih tinggi menderita diabetes tipe-2. Bahkan jika Anda tidak gemuk, tetapi pinggang Anda lebih dari 37 inci (untuk pria) atau 31,5 inci (untuk perempuan), maka faktor ini cukup untuk meningkatkan risiko Anda mengidap diabetes.

3. Mendengkur.
Sekelompok peneliti dari Yale University menganalisis data dari 1.200 orang yang menderita sleep apnea, dan menemukan bahwa kondisi ini dikaitkan dengan risiko dua kali lebih tinggi terkena diabetes.

4. Minum jus.
Setelah mempelajari 70.000 relawan perempuan, ilmuwan Amerika sampai pada kesimpulan bahwa minum hanya 180 mililiter jus buah yang diproduksi secara komersial setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 18 persen. Sementara itu, mereka yang makan buah-buahan segar (bukan jus) memiliki risiko lebih rendah untuk menderita diabetes tipe-2.

5. Kerja "shift".
Sebuah studi di Harvard University telah menunjukkan bahwa kerja shift (khususnya dalam periode jangka panjang) memiliki hubungan dengan peningkatan risiko lebih tinggi terkena diabetes, yaitu sebesar 50 persen.

6. Masalah pada ovarium.
Secara khusus, kondisi seperti sindrom ovarium polikistik telah dikaitkan dengan peningkatan risiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe-2 sebesar 10 persen. Sindrom ovarium polikistik merupakan kelainan endokrinopati yang paling banyak dijumpai pada wanita usia reproduksi. Sindrom ini ditandai dengan kumpulan beberapa gejala, seperti gangguan haid, gangguan ovulasi, hiper-androgenism, dan gambaran ovarium polikistik.

Hidup sehat tidak rumit, hanya membutuhkan kesabaran dan kesadaran, hindarilah kebiasaan buruk tersebut terlebih kebiasaan pemicu diabetes untuk hidup sehat menyenangkan.


Sumber:
http://doktersehat.com/10-kebiasaan-penyebab-diabetes/
http://www.blogceria.com/kesehatan/7-kebiasaan-pemicu-diabetes-yang-kurang-dikenal-masyarakat-p.html 

No comments :

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda, jangan lupa untuk membagikan artikel ini. Silakan berkomentar dan no spam!! Komentar yang berisi spam tidak akan diterbitkan.

Google+